Cerpen Emma


IN THE RAIN


                Hujan membawa pergi air mata yang dipendamnya, namun tidak membawa pergi rasa sakitnya.. Biarlah hujan menghapus jiwanya dalam alur hidup yang kian menipis, namun hujan tak akan sanggup menghapus cinta yang tersemat dihatinya..
                -DUK-DUK-DUK-TRING-
                Suara bola basket yang masuk kedalam ring terus bergema bersamaan dengan bunyi hujan yang turun di sore hari ini. Titik-titik air yang menetes tidak menjadikan pemuda berambut hitam pekat ini berhenti dari aktivitasnya. Malah,semakin hujan turun deras, dia semakin gencar memasukan bola basket kedalam ring. Seakan, hujan adalah lawannya saat ini.
                -DUAK-TRING-
                Kali ini dia melakukan lay up dan mendarat dengan sempurna. Hujan makin deras saja. Seakan menggambarkan suasana hatinya saat ini. Hati yang galau, disertai dengan rasa ketakutan akan kehilangan. Pikirannya melayang tertuju pada sosok perempuan yang mengisi ruang hatinya selama ini. Sosok penyemangat hidupnya.
                “Apakah dengan berhujan-hujan begini tidak akan membuatmu sakit, Guntur?” Sebuah suara dengan volume yang tidak keras menghentikan aktivitasnya. Guntur tersenyum tipis. Tanpa menjawab, dia kembali memasukan bola basket kedalam ring.
                “ Apakah suaraku tak cukup keras untuk kau dengarkan, Guntur?” Tegur perempuan itu lebih keras lagi. Mengharuskan Guntur kembali menarik senyumannya, kali ini senyum pahit. “ Katakan padaku, Aya. Apakah hujan mampu mengikis habis kesedihan?”
                Aya, nama gadis itu, terperangah. Namun tak lama kemudian, dia tertunduk. “ Katakan padaku, Aya. Apakah hujan mampu menghilangkan rasa sakitmu?” Lanjut Guntur. Aya mengangkat wajahnya, menatap punggung Guntur yang saat ini membelakanginya. “Kalau benar, biarlah aku yang menggantikannya untukmu.” Lirihnya.
                “ Hujan. Hujan memang mampu meredam air mata yang kau keluarkan saat ini, tapi tidak dengan hatimu. Hujan tak mampu menghilangkan rasa sakit yang aku derita saat ini, tapi hujan mampu membuatku tegar hanya dengan menyentuhnya.” Aya mengulurkan tangan kirinya hingga hujan menerpanya.
 “ Merasakan hujan, seperti merasakan suasana hatiku. Terpaannya yang begitu keras, bagaikan mengharapkan hal ini cepat berakhir. Namun dibalik itu semua, hujan membuatku kuat terhadap apa yang terjadi. Seperti dia yang mampu menempa tanah, bahkan bebatuan sekalipun.”
Guntur terdiam. Bola basketnya dibiarkan jatuh begitu saja hingga menimbulkan bunyi cipakan air yang lumayan keras. “ Apakah hujan memang begitu luar biasa?”
“ Ya, karena dia dilimpahi dengan kasih sayangNya, sebagai pencerahan hati manusia.”
“ Selalu berkata seperti itu ya,”
“ Ya, beginilah aku.” Lirih Aya.
“....apakah, kau akan pergi? Jauh meninggalkanku?” Kata Guntur seperti mengarah pada dirinya sendiri. Pemuda itu berusaha agar kata-katanya terdengar biasa. Namun, tubuhnya tak bisa membohongi bahwa dia bergetar menahan isak tangis yang mulai keluar.
“...”
“ ...”
“ Aku, bukan Tuhan Guntur. Setiap manusia, pasti akan kembali pada penciptaNya.”
“...”
“.. Aku, aku pun tidak mengharapkan hal ini terjadi. Tapi garis ini tertuju padaku. Bagaimanapun aku harus dapat melaluinya. Walau, hasilnya selalu sama. Sakit ini, bukan aku yang meminta, Guntur. Tapi ini kehendakNya dan aku harus bersyukur diberikan hidup walau mungkin, singkat.
Guntur, sakit ini bukanlah apa-apa bila dibandingkan melihatmu bersedih saat ini. Guntur, jawab aku! Apakah aku masih bisa menghangatkan hatimu? Membuatmu tersenyum kembali dengan aku yang seperti ini? Ap-“ Sebelum Aya melanjutkan kalimatnya lebih jauh, Guntur membalikan badannya dan menarik lengan Aya, hingga dia terjatuh dalam pelukannya. Payung Aya terlepas begitu saja. Hingga hujan mendekap mereka berdua.
“ Kanker otak..eh? Aya, maukah kau bertahan hanya untukku? Mungkin ini terdengar egois. Tapi aku tidak ingin hujan yang selalu mengikis habis kesedihanku, menghilang dan hanya digantikan oleh hujan biasa. Aku tidak ingin kehilangan pelangi yang selalu muncul ketika aku menyentuh hujan yang berada dalam dekapanku saat ini. Lengkapilah aku layaknya mentari yang selalu tersenyum ketika hujan datang. Jangan biarkan mentari ini meredup tanpa pelangi...” Bisik Guntur tepat ditelinga Aya. Sebutir air mata terjatuh dipelupuk matanya. Berbaur bersama aroma hujan.
Aya terdiam. Kemudian gadis itu memejamkan seraya berkata,“ Aku janji. Aku akan selalu menjadi hujan yang turun dihatimu, hingga tak ada alasan untukmu bersedih lagi. Karena aku, hujan yang telah terperangkap oleh Guntur. Selamanya, aku adalah hujan untukmu,” Janji Aya dengan senyum indah dibibirnya.
“Ya, dan hujan yang tak akan pernah meninggalkanku...” Sambung Guntur tanpa bisa menahan air mata yang mengalir.
Biarlah janji ini hidup, sampai hujan terakhir menetes di kehidupannya. Bila saatnya hujan itu harus pergi, dia akan tegar dengan hujan yang pernah ia miliki. Bukan milik siapa-siapa, tapi hanya milik Guntur seorang. Biarlah hujan yang menjadi saksi bisu saat ini. Dimana kesedihan dan kebahagiaan menipis hingga membentuk suatu ikatan pasti yang tak mungkin dimiliki setiap manusia. Karena, hujan mengajarkan segalanya tentang hidup. Hanya pelangi yang mampu menjawab ketika hujan dan mentari bersatu.


Imaginary Winter

            Angin malam berhembus sepoi. Menerpa dingin kulitku yang terbungkus baju yang tidak terlalu hangat bila dibandingkan dinginnya malam ini. Kugosokan kedua tanganku mencoba membuatnya terasa hangat. Kupejamkan kedua mataku mencoba merasakan keheningan malam yang tercipta. Samar-samar dapat kudengar suara kereta api yang lewat diujung keramaian sana.
            Kucengkeram erat palang  jembatan kayu yang hampir lapuk pada tempat ku berpijak ini, Mencoba untuk menahan kekesalan hatiku. Kutahan gemelatuk gigiku dengan menggigit bibir bawahku. Mencoba merendam kekesalan yang masih saja hinggap dihatiku. Tapi tetap saja aku tak bisa menahannya, lagi-lagi kekesalan itu datang  juga, rasa kecewa, dan jengkel terus hinggap dipunggungku. Membuatku merasa kecil dan lemah. Dan akhirnya setetes air mata jatuh menelusuri pipiku. Huh, mengapa baru sekarang air mata ini menetes??
            Kulayangkan pandanganku kelangit kelam, menatap garis khayal yang membentang luas. Lihat.. Bintang terlihat enggan menghiburku, dia tak menampakkan sinarnya. Apakah dia bosan melihatku seperti ini? Dan Langit yang kelam ini seakan mengejek kesialanku.
            Dua hari yang lalu aku pergi meninggalkan rumah. Sebenarnya sih, alasannya adalah alasan yang sepele. Tetapi menurutku ini bukanlah alasan yang sepele, menurutku! Tiga hari yang lalu aku meminta izin Ibuku untuk mendaki gunung bersama teman-temanku. Mendaki itu adalah salah satu hobiku, dan aku sangat menyukainya. Ibu tidak menghendakiku mendaki gunung dengan alasan bahwa cuaca hari itu sangat suram dan menghawatirkan. Tetapi saking cintanya aku dengan hobiku itu, aku tetap nekat dan menentang Ibuku. Disaat aku akan meninggalkan rumah, Ayah mencegahku dan mengunciku dari dalam kamar. Aku jengkel dan mengambil jalan pintas dengan memanjat keluar rumah melalui jendela rumahku. Dengan gembira aku berlari menuju tempat yang telah kami  janjikan sebelumnya. Sesampainya disana aku tidak mendapati temanku seorangpun. Mungkin mereka tengah meninggalkanku karena keterlambatanku.
 Dengan tekad dihati, aku mencoba menyusul mereka. Tetapi memang pada dasarnya cuaca yang begitu tak mendukung, apalagi dengan salju yang kian menumpuk sehingga aku kehilangan jejak. Ditambah lagi dengan badai salju, hingga membuatku terdampar di Desa yang tidak aku ketahui namanya ini. Aku sudah berkeliling untuk mencari tahu jalan keluar tempat ini, tapi tak ada satu orangpun yang nampak. Desa ini memang sunyi. Hampir tak ada kehidupan. Bangunan pun hanya beberapa dan hampir habis dilahap api. Bahkan yang tersisa hanya puing-puing reruntuhan.
            Sebenarnya dalam lubuk hatiku, aku ingin kembali kerumah. Tetapi bagaimana mungkin? Aku saja tidak tahu jalannya. Dan apalagi desa ini terlihat begitu asing.
            Dengan langkah terseok-seok, aku kembali ketempatku berteduh selama ini. Sebuah gedung tua yang hampir terbakar oleh lalapan api. Tetapi setidaknya masih dapat dipakai. Aku duduk diatas kursi tua yang berada di sudut gedung. Mungkin malam ini aku tidur disini lagi. Huh... Persediaan panganku juga habis.
            Aku baru saja akan memejamkan kedua mataku saat kudengar suara seruling yang tertangkap oleh daun telingaku. Suara aneh itu kembali terdengar. Dengan rasa penasaran yang tinggi aku turun dari atas kursiku dan mencari dari mana asal suara itu berada.
            Setelah berkeliling disekitar bangunan tua itu aku tetap tidak menemukan suara atau lebih tepatnya orang yang meniup seruling tadi. Tiba-tiba ada yang menepuk  pundakku dari belakang. Aku tersentak kaget dan menolehkan kepalaku dengan cepat. Mataku membelalak lebar saat menangkap sosok seorang anak laki-laki yang kira-kira seumuran denganku. “ Si-siapa kau??” Tanyaku dengan lidah tercekat.
            Dia menempelkan jari telunjuknya didepan bibirnya dan menarik tanganku kearah kursi yang tadi kududuki. Kami berdua duduk dikursi yang sama. “ Siapa kau?” Tanyaku setelah sedikit menetralkan rasa kagetku.
            Anak laki-laki itu terdiam. Kedua matanya mengarah tepat pada kedua mataku. Tiba-tiba tangan putih pucatnya terulur kearahku. “ Aku Jack..Kau??”
Aku sedikit tersenyum kearahnya sebelum menyambut uluran tangannya. Entah perasaanku atau bukan tetapi tangan Jack sangat dingin.. “ Aku Erika.”
“ Erika? Apa yang sedang kau lakukan malam-malam begini disekitar bangunan tua ini??” Tanyanya penasaran. Aku menundukan kepalaku dan menceritakan kisahku hingga aku sampai sampai ditempat ini.
            “ Jadi, Kau bisa sampai disini karena kau menentang kedua orang tuamu untuk mendaki gunung?”
Aku menganggukan kepalaku. “ Ya. Tetapi mau bagaimana lagi itu sudah menjadi keputusanku sejak awal.” Dapat kurasakan Jack menatapku tetapi aku semakin menundukan kepalaku.
            “ Mungkin aku bisa membantumu.” Katanya tidak lama kemudian. Aku mendongakan kepalaku dan menatapnya tidak percaya. “ Benarkah?!” Jack mengangguk sambil tersenyum kecil.
            “ Tetapi kau harus memenuhi persyaratanya.”
Aku sedikit membelalakan mataku. “ Ap-apa memang persyaratannya??”
Jack tersenyum simpul dan menepuk bahuku pelan. Dingin.
“ Mudah saja. Asalkan kau berjanji tidak akan mengulangi perbuatanmu ini.”
Aku mendengus sembari mengerlingkan mataku kearah lain. Kedua tanganku kulipat didepan dadaku. “ Memang kenapa?” Sewotku.
“ Kau tidak akan mengerti.. Aku dulu juga tersesat sepertimu. Aku  juga menentang kedua orang tuaku dengan alasan yang sama.” Katanya sambil memalingkan wajahnya. Aku sedikit mengerenyit heran. “ Jadi, kau juga suka mendaki??” Jack mengangguk membuatku hampir meloncat kearahnya kalau saja tidak karena jawabannya yang diberikan kepadaku. “ Itu dulu..”
            Aku menatapnya “ Memang kenapa sekarang??”
“ Aku tidak bisa mendaki lagi..” Sorot kesedihan tampak memancar dari kedua matanya. ‘ Jadi dia benar-benar tidak bisa mendaki lagi.’ Kataku dalam hati. Entah kenapa mengetahuinya membuatku juga ikut bersedih.
            “ Kalau begitu aku bisa mengajarimu! Biar kita bisa mendaki bersama-sama!” Ujarku penuh semangat. Dia hanya tersenyum simpul menanggapinya. “ Um.” Angguknya.
            “ Sudah malam. Sebaiknya kau beristirahat. Besok pagi aku akan mengantarmu.”
            “ Lalu, apa kau akan pulang kerumahmu?”
            “ Tidak. Aku selalu disini.”
Aku sedikit mengerenyitkan dahi heran mendengarnya. “ Huh??”
“ Tidak. Tidurlah..” Aku tidak berkata apa-apa lagi dan segera memejamkan mataku.


            Kilau mentari berhasil membuat kelopak mataku sedikit terbuka. Dengan perlahan-lahan aku membuka kedua mataku. Kukerjapkan mataku berusaha menyamakan dengan keadaan sekitar. Harum bunga Camelia mengingatkanku pada rumahku. Sejenak aku meraskan rasa rindu memasuki ruang hatiku. ‘ Rumah..’
            Aku segera bangun dari tidurku. Dan lagi-lagi aku dikagetkan dengan keadaan disekitarku. Wangi Camelia, harum Pie apel buatan Ibu dan harum kopi Ayah yang sedang membaca koran. “ Kau sudah sadar sayang..?” Sayup-sayup aku mendengar suara ibuku. Oh...God! Aku harap ini bukan mimpi!
Dapat kulihat kekhawatiran menghiasi wajah cantiknya. Dengan rasa sesak dihati dan air mata yang meruak ingin keluar, kupeluk erat-erat Ibu. “Ibu..” Isakku perlahan. “ Maafkan Erika Ibu… Maaf…” Isakku. Ini nyata! Akhirnya aku kembali kerumah.
 “ Sssst.. sudahlah sayang.” Kata Ibu sembari mengecupi pipiku. Kulihat ayah juga turut tersenyum haru melihatnya. “Ayah…” Ayah mengangguk dan tersenyum lembut kearahku. Aku memejamkan kedua mataku. Kini perasaan kesal yang hinggap dihatiku telah hilang digantikan perasaan senang, rindu dan haru.
            “ Sekarang kau bersihkan dirimu dulu. Lalu kita sarapan bersama-sama.” Perintah Ibu lembut.
            Aku mengangguk mengiyakan dan mengecup kening beliau sebelum berlari menuju kamarku yang terletak dilantai atas.
            Aku tengah sibuk menikmati pie apel buatan Ibuku. Aku, Ibu dan Ayah sedang sarapan diruang tengah. Betapa aku merindukan suasana seperti ini.
            Jack..
Tiba-tiba aku teringat dengannya. “Ibu,”
            Dapat kulihat Ibu menghentikan sarapannya dan menatap wajahku lembut. “ Ya, sayang?”
            “Ibu.. Bagaimana aku bisa sampai dirumah??”
Mendengar pertanyaanku Ibu mengerenyitkan dahi heran dan Ayah menurunkan koran yang tengah dibacanya. Melihat kelakuan mereka yang menurutku aneh aku memiringkan kepalaku menandakan kalau aku sungguh-sungguh dengan pertanyaanku.
            “ Pagi tadi, Kami menemukanmu pingsan didepan pintu rumah, Sayang. Dan kami membopongmu keatas sofa.” Jelas Ibu kemudian.
            Mendengar hal itu ku dorong Pie kedalam kerongkonganku yang tibas-tiba terasa susah untuk ditelan. Bukannya semalam aku di bangunan tua yang nyaris hangus dibawah gunung? Lagipula Jack juga janji akan membangunkanku pagi-pagi dan mengantarkanku pulang. Apa mungkin tadi aku masih tertidur dan dia mengantarkanku pulang? Tapi aku rasa mustahil. Jalan yang dilalui rumit dan iwalaupun aku tertidur pasti aku terbangun. Lagipula tisdak mungkin diaa mnegetahui rumahku. Yah, karena aku belum memberihtahukan letqak rumahku sebelumnya.
            “ Sayang?” Panggil Ibuku sembari mnyentuh bahuku lembut. “ Kau tidak apa-apa kan?”
            Aku menggelengkan kepalaku dan berlari keluar rumah. “ ERIKA!!” Seru Ibu
Aku hanya melambaikan tangan kananku dan tetap berlari keluar rumah setelah memakai sepatu. “ Aku akan kembali, Ibu, Ayah!!”


            “ Jack!!” Teriakku disetiap jalan yang aku lalui. Aku berlari kearah taman dan menajamkan kedua mataku kalau-kalau mendapati Jack disana.
            “ Huh, kemana dia?! Kalau pun pergi pasti tak secepat itu. Lagipula jarak kota ini dengan desa itu lumayan jauh. Harusnya ketemu.” Gerutuku. Aku segera berlari mencari Jack di Bukit yang berada di pinggir kota. Siapa tahu aku bisa menemukannya diketinggian itu.
            “ Jack!!!” Teriakku keras. Aku tengah berdiri diatas bukit dan memandang keadaan dibawahku. Dapat kulihat hutan pinus membentang dibawah sana. Hutan itu membatasi kotaku dan desa tempatku tersesat 2 hari yang lalu.
            “ Jack!!” Kembali aku memanggil namanya, namun tetap tidak ada jawaban. Aku menggelengkan kepalaku, dan kedua kakiku tidak sanggup berdiri.
            Sayup-sayup kudengar suara angin yang berhembus dari arah hutan. Bersamaan dengan hembusannya, aku mendengar suara Jack yang amat kecil sekali untuk aku tangkap.
            “Erika.... Terimakasih...”
            Terimakasih??? “JACK!!!!” Teriakku lagi. Kali ini aku mengerahkan seluruh suaraku. Sampai akhirnya kedua mataku menangkap sosok berjubah coklat yang aku cari, tepat dibawah bukit. Tanpa ragu aku segera berlari menuruni bukit itu tanpa mempedulikan kodisi tubuhku.
            “Jack!!! Jack!!!”
            Sesampainya dibawah aku hendak menghampiri sosok rapuh itu. Tapi Jack menahanku untuk tak mendekatinya dengan isyarat tangannya.
            “Jangan Erika,”
            “Kenapa? Kenapa Jack??”
            Jack menunduk menatap tanah dibawahnya. “Lihatlah....”
            Mataku melotot. Bagaimana tidak? Melihat kaki Jack yang tidak berpijak diatas tanah membuatku berpikir aku sedang berhadapan dengan makhluk lain. “Ka-kau... Tidak mungkin!”
            “Ya, aku sudah meninggal beberapa tahun silam. Aku meninggal karena tidak bisa bertahan hidup ditengah derasnya badai salju saat itu. Aku juga mempunyai hoby mendaki dan memainkan seruling.”
            “Waktu itu, aku menentang kedua orang tuaku dengan segala keegoisanku. Mereka mencegahku untuk tidak mendaki malam itu. Namun aku nekat. Sampai akhirnya aku melarikan diri dari rumahku dan mendaki gunung. Namun...karena cuaca yang tidak mendukung saat itu, aku kehilangan keseimbangan dan terpelosok kedalam lubang yang cukup dalam. Dan begitulah akhir kisahku. Mungkin,”
            Aku membelalakan mata tak percaya. Bagaimana mungkin? Jadi yang bersamaku semalam itu...Hantu? Oh, Tuhan...
            Tapi tunggu dulu? Mungkin?
            “Mu-mungkin?” Kataku dengan terbata.
            “Ya mungkin bila kau mau menolongku.”Sahutnya kalem.
            “Menolong?”
            “Menolong. Apa kau mau?” Tanyanya penuh harap.
            Aku menelan ludah gugup.
            “Ba-baiklah.. Minta tolong apa?”
            “Angkat mayatku dari dalam lubang kecil yang terletak ditengah hutan ini.”


            Sejak kejadian yang aneh beberapa minggu yang lalu, kini aku dapat menjalani aktivitasku seperti semula. Dan kalian tahu? Sejak kejadian itu, aku telah berubah menjadi Erika yang patuh pada kedua orangtuaku. Menjadi Erika yang tidak mengutamakan keegoisan dan Erika yang berpikir secara matang. Mungkin sebagian kalian tidak percaya. Tapi, apa kalian tahu? Arwah seperti Jack itu pasti adaloh...Ah...ngomong-ngomong soal Jack, aku jadi kangen dengannya. UUUUPPSS!! Tidak boleh.
Jack sudah berada dialam yang berbeda. Mungkin kalau dia masih disini, aku akan mengucapkan terimakasih padanya yang telah menjadikanku Erika Lucianna yang baru!